Selasa, 26 Januari 2016

bali ku

Pulau Bali merupakan salah satu wilayah sekaligus pulau terbesar di Provinsi Bali, selain Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Provinsi Bali beribukota di Denpasar, masuk dalam wilayah Bali bagian selatan. Pulau Bali berada di sebelah timur Pulau Jawa, memiliki potensi wisata sangat besar sehingga menjadi destinasi wisata paling populer di Indonesia. Bukan hanya terkenal di Indonesia, tetapi potensi wisata Bali juga sudah sangat populer di berbagai negara, terutama dikalangan wisatawan Jepang dan Australia. Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, sehingga tak mengherankan jika pulau tersebut dijuluki sebagai Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura, karena memang di Bali banyak sekali Pura yang merupakan tempat ibadah umat Hindu sebagai agama mayoritas di sana. Batas Wilayah Pulau Bali Secara geografis Pulau Bali berbatasan dengan Laut Bali di bagian utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat di bagian timur, Samudera Hindia di bagian selatan dan Pulau Jawa (Provinsi Jawa Timur) di bagian barat. Jarak ke Provinsi Jawa Timur hanya sekitar 3,2 kilometer yang dibatasi oleh Selat Bali. Sejarah Bali Konon Pulau Bali mulai berpenghuni pada 3000-2500 SM oleh orang-orang yang bermigrasi dari Asia. Era prasejarah di Bali diperkirakan berakhir pada 100 SM, semenjak datangnya ajaran Hindu dari India, seperti tertera pada prasasti berbahasa Sanskerta. Pengaruh ajaran Hindu begitu kuat, sehingga kebudayaan Bali secara berangsur mulai mengikuti budaya India. Kebudayaan Hindu India semakin cepat mempengaruhi Budaya Bali semenjak abad ke 1 Masehi. Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan Hindu terkuat dan berpusat di Pulau Jawa pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Pada waktu itu, hampir seluruh wilayah nusantara, yang notabenenya berada dibawah pemerintahan kerajaan Majapahit, memeluk agama hindu. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit, dan mulai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, banyak masyarakat Hindu di Pulau Jawa yang bermigrasi ke Bali. Orang Eropa pertama kali datang ke Pulau Bali adalah dari Potugis pada tahun 1585. Ketika itu kapal Portugis terdampar di daerah dekat Tanjung Bukit, Jimbaran. Namun, sepertinya mereka tidak begitu tertarik dengan pulau tersebut. Baru pada tahun 1597, Cornelis De Houtman dari Belanda datang ke Bali. Melalui VOC, Belanda mulai menerapkan penjajahan di daerah tersebut. Sehingga tercatat Cornelis De Houtman lah yang pertama menemukan Pulau Bali. Bali Tempo Doeloe Bali Tempo Doeloe Pendudukan Belanda di Bali terus mendapatkan perlawanan dari rakyat, bahkan sekitar tahun 1840-an Belanda melakukan serangan besar-besaran di daerah Sanur dan Denpasar. Rakyat Bali yang kalah baik dari segi jumlah pasukan maupun persenjataan tidak mau menyerah begitu saja. Bagi warga Bali, menyerah bukanlah hal yang terhormat, sehingga mereka berperang sampai titik darah penghabisan atau dalam bahasa Bali disebut dengan Perang Puputan. Hampir seluruh rakyat, baik pria maupun wanita terlibat dalam perang tersebut. Tujuan perang puputan ini bukanlah untuk mengalahkan musuh, tetapi lebih dahsyat daripada itu, yakni mati dihadapan musuh daripada menyerah. Dalam peristiwa tersebut, diperkirakan sebanyak 4000 orang tewas. Adanya perlawanan yang begitu hebat dari rakyat Bali membuat Belanda tidak begitu leluasa dalam memberikan pengaruhnya, baik terhadap budaya, agama, serta kondisi sosial setempat. Sehingga tak mengherankan jika sampai saat ini warga Bali masih memegang teguh pada budaya leluhur. Semenjak Jepang menduduki wilayan Indonesia selama parang dunia II (1942-1945), termasuk di Bali, seorang bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Pejuang Kemerdekaan di Bali. Dan setelah Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu, I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya merampas persenjataan Jepang. Ketika Belanda berhasil kembali ke Indonesia dan bermaksud menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya, pasukan I Gusti Ngurah Rai mencoba untuk menentang dan melakukan perlawanan, yang akhirnya pada tanggal 20 November 1945 pecahlah perang di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Terjadilah pertempuran yang dikenal Perang Puputan Margarana, dimana I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya bertempur sampai titik darah penghabisan. Sebuah peristiwa yang sangat heroik kembali terulang di Bali, seluruh pasukan pejuang Bali dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai tewas pada pertempuran waktu itu. Tahun 1963 terjadilah peristiwa alam yaitu meletusnya Gunung Agung yang mengakibatkan guncangan hebat terhadap perekonomian Bali. Banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk perbaikan kesejahteraan mereka. Namun, seiring dengan perkembangan industri pariwisata di daerah tersebut, kondisi perekonomian Bali secara berangsur mulai pulih, bahkan menjadi salah satu daerah yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Namun, ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri pariwisatanya, lagi-lagi Pulau Seribu Pura ini harus mengalami goncangan hebat. Terjadi sebuah tragedi pada tanggal 12 Oktober 2002 yang dikenal sebagai Tragedi Bom Bali 1 dan menewaskan 202 orang dengan 209 orang cedera. Peristiwa tersebut sontak membuat industri pariwisata di Bali mengalami penurunan sangat signifikan. Belum selesai berbenah, kembali terjadi serangan Bom Bali 2 pada tahun 2005. Seiring dengan berjalanannya waktu, Bali terus mengadakan perbaikan dan pembenahan di segala bidang, termasuk dalam bidang keamanan. Perlahan-lahan industri pariwisata di Bali mulai menggeliat lagi, dan saat ini Bali telah kembali memposisikan dirinya sebagai destinasi wisata andalan Indonesia. Potensi Wisata Bali Nama Bali sudah sangat terkenal bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Harus diakui, bahwa Bali merupakan primadona pariwisata Indonesia, bahkan tingkat kemajuan industri pariwisata Bali turut memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Berkembangnya industri pariwisata di Bali tidak lepas dari petonsi wisata yang dimiliki kawasan tersebut. Ya, selain memiliki keindahan alam mempesona, baik di daerah pantai maupun dataran tinggi, Bali juga memiliki peninggalan sejarah yang teramat penting. Berbagai situs sejarah, terutama bangunan keagamaan, di Bali harus diakui menjadi salah satu potensi yang cukup besar untuk sektor pariwisata. Tak hanya itu, Bali juga memiliki budaya khas yang cukup unik dan terus dipelihara turun-temurun. Kuatnya budaya Bali inilah yang menjadi faktor utama perkembangan industri pariwisata. Keunikan dan kekhasan budaya Bali ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, dan budaya inilah daya tarik yang tak tergantikan. Tempat Wisata Di Bali Banyak tempat wisata di Bali yang namanya sudah begitu populer hingga ke mancanegara. Sebut saja Pantai Kuta Bali, yaitu tempat wisata primadona para turis sekaligus ikon wisata Bali. Selain Pantai Kuta, ada juga Tanah Lot, yaitu tempat wisata yang menggabungkan potensi keindahan pantai dengan bangunan peninggalan sejarah berupa Pura. Pura Tanah Lot sangat diminati wisatawan karena keunikannya. Selain itu, ada juga Pantai Nusa Dua dan Pantai Tanjung Benoa. Kedua pantai tersebut berada di kawasan elit Provinsi Bali. Kini Bali sedang mengembangkan kawasan wisata terpadu bernama Garuda Wisnu Kencana atau lebih dikenal dengan sebutan GWK Bali. Kawasan wisata Ubud juga turut menjadi pendorong industri pariwisata Bali. Ubud dengan budaya khas dan karya seninya turut memperkaya pilihan tempat wisata di Bali. Terlebih lagi kawasan wisata Ubud juga memiliki potensi keindahan alam berupa pemandangan memukau di area persawahan terasering dan hutan monyet atau monkey forest. Lihat informasi selengkapnya pada artikel Daftar Tempat Wisata Di Bali. Baju Adat/Pakaian Adat Bali Sebenarnya Bali memiliki pakaiann adat sangat bervariasi, tergantung pada daerah yang memiliki simbol dan ornamen sendiri-sendiri dan juga disesuaikan dengan jenis kegiatan atau upacara. Namun, secara umum pakaian adat Bali terdiri dari beberapa bagian, antara lain: Pakaian Adat Bali Untuk Pria Udeng (ikat kepala) Kain kampuh Umpal (selendang pengikat) Kain wastra (kemben) Sabuk Keris Ornamen dan perhiasan Sering pula dikenakan baju kemeja, dan jas Ada juga yang mengenakan alas kaki Pakaian Adat Bali Untuk Wanita Gelung (sanggul) Sesenteng (kemben songket) Kain wastra Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada Selendang songket bahu ke bawah Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam Ornamen dan perhiasan Sering pula dikenakan kebaya dan kain penutup dada Ada juga yang mengenakan alas kaki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar