Selasa, 26 Januari 2016

Bali ku

Ubud

Wisata Ubud Bali, tempat wisata di Bali yang banyak wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik yang tertarik untuk kunjungi. Tempat wisata di Ubud Bali, adalah sebuah kecamatan yang sangat terkenal semejak tahun 1930-an.
Tempat wisata di Ubud Bali, terletak di Kabupaten Gianyar, Kabupaten yang banyak memiliki seniman dan dapat dikatakan merupakan pusat budaya seni di Bali, khusus seni lukis, seni ukir, seni patung, seni tari dan musik traditional Bali.
Desa Ubud dari airport Denpasar, berjarak kurang lebih 40 kilometer, dan dengan mobil anda akan menempuh waktu selama satu setengah jam.
wisata ubud bali

Wisata Ubud Bali Indonesia

Desa Ubud, daerah seni yang sangat sering disebut sebagai desa bertaraf internasional. Semua orang yang telah mengenal tempat wisata Ubud Bali pasti mengatakan, Ubud memang pantas untuk menyandang predikat desa internasional. Sebagian besar dipinggir jalan di kawasan ubud terdapat restaurant, hotel, galeri dan toko-toko yang menjual kerajinan lokal.
Tempat wisata di Ubud Bali sangat terkenal terkenal, baik di Indonesia maupun ke mancanegara, kecamatan yang memiliki lokasi yang terletak di antara persawahan dan kawasan hutan diapit oleh jurang-jurang dengan sungai, yang membuat lokasi ini, menggambarkan alam yang sangat indah.
Selain karena kondisi alam, Ubud juga terkenal karena seni dan budaya Bali dan sangat berkembang dari tahun ketahun. Sebagian masyarakat Ubud, kehidupan sehari-hari mereka tidak lepas dari unsur seni dan budaya. Juga sebagian masyarakatnya bermata pencaharian sebagai seniman.
Baik seniman lukis, seniman kerajinan tangan ataupun seniman tari. Jika anda mencari galeri-galeri seni, maka anda harus datang ke Ubud, karena di sini terdapat banyak galeri-galeri tentang seni, serta pementasan seni musik dan seni tari, yang dipentaskan setiap malam bergiliran di segala penjuru.
Selain itu di objek wisata Ubud juga terdapat hotel-hotel berbintang, untuk para wisatawan menginap. Selain hotel berbintang, di objek wisata Ubud juga banyak terdapat penginapan dengan harga yang murah. Mungkin anda sering mendengar tentang pasar seni Sukawati, di Ubud juga terdapat pasar seni dan lebih dikenal dengan nama pasar seni Ubud.
Ubud Art Market / pasar seni Ubud, juga menjual kerajinan lokal dengan harga murah seperti di pasar Sukawati.
Jika anda ingin mengunjungi desa Ubud, supir kami siap mengantarkan anda desa Ubud, jika anda menyewa kendaraan dengan supir di rental mobil Bali.
Selain itu, kami juga menyediakan tour murah di Bali secara khusus untuk tour di Ubud. Untuk lebih detail tentang paket tour ke Ubud, silakan klik link ini, paket tour Ubud.

Sejarah Pariwisata Bali


 

 

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.

Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

Sejarah Pariwisata Bali


 

 

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.

Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

sejarah pariwisata bali

Sejarah Pariwisata Bali

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.

Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti :

Seniman Sastra

Dr Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh Dunia pada tahun 1920 yang bersangkutan tinggal di Bangli.
Miguel Covarrubias dengan bukunya the Island of Bali tahun 1930
Magaret Mead
Collin Mc Phee
Jone Bello
Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise
Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali menetap di Bali tahun 1928
Lovis Conperus (1863-1923) dengan bukunya Easwords (Melawat ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.
Seniman Lukis

R. Bonet mendirikan museum Ratna Warta
Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance dan Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925.
Arie Smith yang membentuk aliran young artist
Le Mayeur orang Belgia mengambil istri di Bali tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali 5. Mario Blanco orang Spanyol juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud.
Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil obyek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar keseluruh Eropa dan Amerika.

Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.

Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.

Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara.

Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.

Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.

Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :

The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya.
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.

Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.

Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.

Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.

Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.

bali ku

Sejarah Pariwisata Bali

 

 

 

Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.

Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

bali ku

Pulau Bali merupakan salah satu wilayah sekaligus pulau terbesar di Provinsi Bali, selain Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Provinsi Bali beribukota di Denpasar, masuk dalam wilayah Bali bagian selatan. Pulau Bali berada di sebelah timur Pulau Jawa, memiliki potensi wisata sangat besar sehingga menjadi destinasi wisata paling populer di Indonesia. Bukan hanya terkenal di Indonesia, tetapi potensi wisata Bali juga sudah sangat populer di berbagai negara, terutama dikalangan wisatawan Jepang dan Australia. Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, sehingga tak mengherankan jika pulau tersebut dijuluki sebagai Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura, karena memang di Bali banyak sekali Pura yang merupakan tempat ibadah umat Hindu sebagai agama mayoritas di sana. Batas Wilayah Pulau Bali Secara geografis Pulau Bali berbatasan dengan Laut Bali di bagian utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat di bagian timur, Samudera Hindia di bagian selatan dan Pulau Jawa (Provinsi Jawa Timur) di bagian barat. Jarak ke Provinsi Jawa Timur hanya sekitar 3,2 kilometer yang dibatasi oleh Selat Bali. Sejarah Bali Konon Pulau Bali mulai berpenghuni pada 3000-2500 SM oleh orang-orang yang bermigrasi dari Asia. Era prasejarah di Bali diperkirakan berakhir pada 100 SM, semenjak datangnya ajaran Hindu dari India, seperti tertera pada prasasti berbahasa Sanskerta. Pengaruh ajaran Hindu begitu kuat, sehingga kebudayaan Bali secara berangsur mulai mengikuti budaya India. Kebudayaan Hindu India semakin cepat mempengaruhi Budaya Bali semenjak abad ke 1 Masehi. Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan Hindu terkuat dan berpusat di Pulau Jawa pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Pada waktu itu, hampir seluruh wilayah nusantara, yang notabenenya berada dibawah pemerintahan kerajaan Majapahit, memeluk agama hindu. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit, dan mulai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, banyak masyarakat Hindu di Pulau Jawa yang bermigrasi ke Bali. Orang Eropa pertama kali datang ke Pulau Bali adalah dari Potugis pada tahun 1585. Ketika itu kapal Portugis terdampar di daerah dekat Tanjung Bukit, Jimbaran. Namun, sepertinya mereka tidak begitu tertarik dengan pulau tersebut. Baru pada tahun 1597, Cornelis De Houtman dari Belanda datang ke Bali. Melalui VOC, Belanda mulai menerapkan penjajahan di daerah tersebut. Sehingga tercatat Cornelis De Houtman lah yang pertama menemukan Pulau Bali. Bali Tempo Doeloe Bali Tempo Doeloe Pendudukan Belanda di Bali terus mendapatkan perlawanan dari rakyat, bahkan sekitar tahun 1840-an Belanda melakukan serangan besar-besaran di daerah Sanur dan Denpasar. Rakyat Bali yang kalah baik dari segi jumlah pasukan maupun persenjataan tidak mau menyerah begitu saja. Bagi warga Bali, menyerah bukanlah hal yang terhormat, sehingga mereka berperang sampai titik darah penghabisan atau dalam bahasa Bali disebut dengan Perang Puputan. Hampir seluruh rakyat, baik pria maupun wanita terlibat dalam perang tersebut. Tujuan perang puputan ini bukanlah untuk mengalahkan musuh, tetapi lebih dahsyat daripada itu, yakni mati dihadapan musuh daripada menyerah. Dalam peristiwa tersebut, diperkirakan sebanyak 4000 orang tewas. Adanya perlawanan yang begitu hebat dari rakyat Bali membuat Belanda tidak begitu leluasa dalam memberikan pengaruhnya, baik terhadap budaya, agama, serta kondisi sosial setempat. Sehingga tak mengherankan jika sampai saat ini warga Bali masih memegang teguh pada budaya leluhur. Semenjak Jepang menduduki wilayan Indonesia selama parang dunia II (1942-1945), termasuk di Bali, seorang bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Pejuang Kemerdekaan di Bali. Dan setelah Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu, I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya merampas persenjataan Jepang. Ketika Belanda berhasil kembali ke Indonesia dan bermaksud menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya, pasukan I Gusti Ngurah Rai mencoba untuk menentang dan melakukan perlawanan, yang akhirnya pada tanggal 20 November 1945 pecahlah perang di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Terjadilah pertempuran yang dikenal Perang Puputan Margarana, dimana I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya bertempur sampai titik darah penghabisan. Sebuah peristiwa yang sangat heroik kembali terulang di Bali, seluruh pasukan pejuang Bali dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai tewas pada pertempuran waktu itu. Tahun 1963 terjadilah peristiwa alam yaitu meletusnya Gunung Agung yang mengakibatkan guncangan hebat terhadap perekonomian Bali. Banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk perbaikan kesejahteraan mereka. Namun, seiring dengan perkembangan industri pariwisata di daerah tersebut, kondisi perekonomian Bali secara berangsur mulai pulih, bahkan menjadi salah satu daerah yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Namun, ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri pariwisatanya, lagi-lagi Pulau Seribu Pura ini harus mengalami goncangan hebat. Terjadi sebuah tragedi pada tanggal 12 Oktober 2002 yang dikenal sebagai Tragedi Bom Bali 1 dan menewaskan 202 orang dengan 209 orang cedera. Peristiwa tersebut sontak membuat industri pariwisata di Bali mengalami penurunan sangat signifikan. Belum selesai berbenah, kembali terjadi serangan Bom Bali 2 pada tahun 2005. Seiring dengan berjalanannya waktu, Bali terus mengadakan perbaikan dan pembenahan di segala bidang, termasuk dalam bidang keamanan. Perlahan-lahan industri pariwisata di Bali mulai menggeliat lagi, dan saat ini Bali telah kembali memposisikan dirinya sebagai destinasi wisata andalan Indonesia. Potensi Wisata Bali Nama Bali sudah sangat terkenal bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Harus diakui, bahwa Bali merupakan primadona pariwisata Indonesia, bahkan tingkat kemajuan industri pariwisata Bali turut memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Berkembangnya industri pariwisata di Bali tidak lepas dari petonsi wisata yang dimiliki kawasan tersebut. Ya, selain memiliki keindahan alam mempesona, baik di daerah pantai maupun dataran tinggi, Bali juga memiliki peninggalan sejarah yang teramat penting. Berbagai situs sejarah, terutama bangunan keagamaan, di Bali harus diakui menjadi salah satu potensi yang cukup besar untuk sektor pariwisata. Tak hanya itu, Bali juga memiliki budaya khas yang cukup unik dan terus dipelihara turun-temurun. Kuatnya budaya Bali inilah yang menjadi faktor utama perkembangan industri pariwisata. Keunikan dan kekhasan budaya Bali ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, dan budaya inilah daya tarik yang tak tergantikan. Tempat Wisata Di Bali Banyak tempat wisata di Bali yang namanya sudah begitu populer hingga ke mancanegara. Sebut saja Pantai Kuta Bali, yaitu tempat wisata primadona para turis sekaligus ikon wisata Bali. Selain Pantai Kuta, ada juga Tanah Lot, yaitu tempat wisata yang menggabungkan potensi keindahan pantai dengan bangunan peninggalan sejarah berupa Pura. Pura Tanah Lot sangat diminati wisatawan karena keunikannya. Selain itu, ada juga Pantai Nusa Dua dan Pantai Tanjung Benoa. Kedua pantai tersebut berada di kawasan elit Provinsi Bali. Kini Bali sedang mengembangkan kawasan wisata terpadu bernama Garuda Wisnu Kencana atau lebih dikenal dengan sebutan GWK Bali. Kawasan wisata Ubud juga turut menjadi pendorong industri pariwisata Bali. Ubud dengan budaya khas dan karya seninya turut memperkaya pilihan tempat wisata di Bali. Terlebih lagi kawasan wisata Ubud juga memiliki potensi keindahan alam berupa pemandangan memukau di area persawahan terasering dan hutan monyet atau monkey forest. Lihat informasi selengkapnya pada artikel Daftar Tempat Wisata Di Bali. Baju Adat/Pakaian Adat Bali Sebenarnya Bali memiliki pakaiann adat sangat bervariasi, tergantung pada daerah yang memiliki simbol dan ornamen sendiri-sendiri dan juga disesuaikan dengan jenis kegiatan atau upacara. Namun, secara umum pakaian adat Bali terdiri dari beberapa bagian, antara lain: Pakaian Adat Bali Untuk Pria Udeng (ikat kepala) Kain kampuh Umpal (selendang pengikat) Kain wastra (kemben) Sabuk Keris Ornamen dan perhiasan Sering pula dikenakan baju kemeja, dan jas Ada juga yang mengenakan alas kaki Pakaian Adat Bali Untuk Wanita Gelung (sanggul) Sesenteng (kemben songket) Kain wastra Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada Selendang songket bahu ke bawah Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam Ornamen dan perhiasan Sering pula dikenakan kebaya dan kain penutup dada Ada juga yang mengenakan alas kaki

bali ku

Sejarah Pariwisata Bali Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan. Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara. Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia. Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah. Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu. Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God). Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti : Seniman Sastra Dr Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh Dunia pada tahun 1920 yang bersangkutan tinggal di Bangli. Miguel Covarrubias dengan bukunya the Island of Bali tahun 1930 Magaret Mead Collin Mc Phee Jone Bello Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali menetap di Bali tahun 1928 Lovis Conperus (1863-1923) dengan bukunya Easwords (Melawat ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani. Seniman Lukis R. Bonet mendirikan museum Ratna Warta Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance dan Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925. Arie Smith yang membentuk aliran young artist Le Mayeur orang Belgia mengambil istri di Bali tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali 5. Mario Blanco orang Spanyol juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud. Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil obyek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar keseluruh Eropa dan Amerika. Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya. Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani. Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara. Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut. Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol. Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain : The Island of Gods The Island of Paradise The Island of Thousand Temples The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya. Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949. Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter. Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter. Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali. Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.